Monday, May 20, 2013

JAMUR TIRAM


USAHA BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Usaha budidaya jamur tiram sebernarnya sangat mudah, hanya saja terkadang penyebab utama kegagalan ada pada kebersihan lingkungan. Kebersihan lingkungan menjadi syarat utama yang harus diperhatikan, mengingat budidaya jamur timar sangat rentan terhadap kelembaban tinggi. sebelum memulai usaha budidaya jamur tiram, kita perlu memperhatikan lokasi usaha, diusahakan tidak berdekatan dengan kandang ternak, tempat pembuangan sampah serta tempat-tempat lain yang mudah mengundang hama penyakit. Pilih tempat-tempat yang bersih serta strategis untuk memudahkan pengangkutan saat panen sehingga dapat menghemat biaya transportasi.

Pada usaha budidaya jamur tiram skala rumah tangga, lingkungan rumah juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat usaha, asalkan kebersihannya harus tetap terjaga. Kunci utama pada usaha ini hanyalah faktor kebersihan lingkungan dan menjaga suhu udara konstan agar produksi optimal dapat tercapai.


Rumah Jamur atau Kumbung
Jika memilih lokasi di luar rumah maka harus dibuatkan rumah khusus untuk budidaya jamur yang biasa disebut kumbung. Bentuk dan bangunan kumbung disesuaikan dengan kondisi lahan, biaya, dan daya tampung baglog. Sebagai contoh menentukan ukuran rumah jamur atau kumbung, untuk kapasitas baglog sebanyak 500-1500 baglog diperlukan rumah jamur berukuran 6 x 4 m. Mengingat faktor terpenting untuk menunjang keberhasilan budidaya jamur tiram adalah kelembaban dan kebersihan. Rumah jamur atau kumbung idealnya harus memenuhi kelembaban optimal untuk pertumbuhan jamur, sedangkan kebersihan menjadi syarat mutlak dalam mencegah serangan hama penyakit pada jamur yang kita budidayakan.

Pembuatan Rak Baglog

Untuk mempermudah pekerjaan, baik saat pemeliharaan maupun pemanenan, dan manaruh media jamur tiram, pada rumah kumbung dibuatkan rak tempat meletakkan baglog. Rak-rak ini bisa terbuat dari bambu semua atau kombinasi bambu kayu. Pembuatan rak baglog disesuaikan dengan kondisi usaha saja, untuk skala rumah tangga cukup menggunakan rak dari bambu agar biaya produksi dapat ditekan, sedangkan usaha budidaya jamur tiram dalam skala besar dan jangka panjang, pembuatan rak baglog menggunakan kombinasi bambu kayu juga akan menghemat biaya. Buat lapisan-lapisan rak paling banyak 5 lapis untuk satu unit rak. Hal ini bermaksud agar memudahkan pemeliharaan, jika terlalu tinggi justru para pekerja akan kesulitan menjangkaunya, menyebabkan pekerajaan menjadi semakin lama dan biaya pemeliharaan semakin membengkak. Satu lapis rak dibuat dengan panjang 300 cm, lebar 40 cm, serta tinggi 40 cm. Pada ukuran ini mampu menampung kurang lebih 60 baglog. Jadi, untuk satu unit rak yang terdiri dari 5 lapis, mampu menampung sebanyak 3000 baglog.
Lapisan rak paling bawah jaraknya diperlebar menjadi 30-35 cm dari permukaan tanah. Hal ini bertujuan menjaga kelembaban udara pada lapisan rak paling bawah, sirkulasi udara menjadi lancar sehingga perkembangbiakan hama penyakit dapat ditekan, terutama jika lantai dasarnya masih berupa lantai tanah. Jarak antarrak baglog 1 m juga agar memudahkan saat melakukan pemeliharaan serta pemanenan.

Persiapan Media Budidaya

Media tanam budidaya jamur tiram banyak sekali jenisnya, tergantung bagaimana mudahnya kita memperoleh bahannya saja. Media jamur dapat berupa substrat kayu, serbuk gergaji, ampas tebu, atau sekam. Pembuatan media tanam berisi campuran dari media ditambahkan nutrisi berupa tepung jagung, air, dedak halus, air, gips atau kapur (CaCo3). Media tanam kemudian dimasukkan dalam kantong plastik sampai penuh, lalu dimasukkan pralon atau bambu berdiameter 3 cm kemuadian baru diikat dengan kuat. Media jadi tersebut dinamakan baglog. Namun, kebanyakan para pelaku usaha jamur tiram membeli baglog siap pakai dikarenakan butuh ketrampilan, kebiasaan serta ketelitian tinggi dalam membuat baglog sendiri.

Bibit

Bibit dapat diperoleh melalui pembuatan kultur murni, pembuatan bibit induk, bibit semai, atau membeli bibit yang telah ditanam dalam baglog. Pembuatan kultur murni membutuhkan lingkungan yang sangat steril, dilakukan dalam kotak inokulasi, dan menggunakan media khusus berupa PDA (potatoes dextrose algae). Pembibitan dengan metode ini umumnya dilakukan oleh para peneliti atau pembudidaya jamur yang memang telah memahami teknik pengkulturan/isolasi. Hal tersebut dikarenakan pembibitan dengan metode ini sangat rawan kontaminasi.

Bibit melalui pembibitan induk pada dasarnya sama dengan pembuata bibit semai, hanya saja inokulan dan komposisi media yang digunakan berbeda. Inokulan yang digunakan untuk bibit induk adalah kultur murni, sedangkan inokulan untuk bibit semai adalah bibit induk. Namun saat ini telah banyak pengusaha jamur yang menjual bibit jamur tiram dalam kemasan baglog dan siap pakai. Hal ini berarti bibit telah tertanam dalam media baglog dan siap untuk dilanjutkan dalam proses budidaya hingga panen.

Para pemula atau pelaku usaha jamur tiram skala rumah tangga biasanya menggunakan bibit baglog siap pakai yang sudah disertifikasi. Namun, jika sudah menguasai teknik budidaya dan usaha budidaya jamur tiram sudah tergolong besar, ada baiknya jika melakukan pembibitan jamur sendiri untuk menekan biaya produksi.

Faktor Lingkungan
Pertumbuhan jamur diawali dengan pertumbuhan miselium yang akan membentuk tunas atau calon tubuh buah jamur (pin head), kemudian akan berkembang menjadi tubuh buah (jamur). Faktor-faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan miselium dan tubuh jamur diantaranya adalah keasaman (pH), suhu, intensitas cahaya, dan kelembaban.

Jamur dapat tumbuh optimal pada kisaran pH 5-7. Lingkungan yang terlalu asam atau terlalu basa akan menghambat pertumbuhannya. Sedangkan suhu yang dapat menunjang pertumbuhan miselium jamur adalah 23-28 derajat C dengan suhu optimum 25 derajat C. Namun saat ini budidaya jamur tiram telah banyak dikembangkan di dataran rendah dengan kisaran suhu di atas 28 derajat C dan tubuh jamur dapat tumbuh baik pada suhu 30 derajat C. Bahakan hasil panennya lebih baik dibanding dengan budidaya di dataran menengah atau tinggi dengan kualitas tubuh buah yang memiliki daya adaptasi lebih baik, jamur telihat lebih segar, dan saat panen berbau lebih harum. Hal ini bisa terjadi karena adanya modifikasi komposisi media yang digunakan dengan penyesuaian keadaan setempat. Hingga saat ini belum ada standar komposisi media untuk budidaya jamur tiram di dataran rendah, sehingga petani memodifikasi media dan lingkungan berdasarkan pengalaman dan kondisi masing-masing

Intensitas cahaya lebih dibutuhkan saat pembentukan tubuh jamur dari pada saat pembentukan miselium. Paparan cahaya matahari langsung bisa mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan miselium atau merusak tubuh buah yang sudah terbentuk. Pada dasarnya cahaya yang menyebar merupakan cahaya yang baik bagi pertumbuhan jamur tiram.

Faktor lain yang sangat mempengaruhi keberhasilan budidaya jamur tiram adalah kelembaban dan oksigen. Kelembaban yang dibutuhkan selama pertumbuhan bibit dan pertumbuhan tubuh jamur adalah 90%. Kelembaban tersebut harus selalu dijaga agar tidak menyebabkan substrat mengering. Salah satu cara untuk menjaga agar kelembaban tetap terjaga adalah dengan menyiram lantai ruangan budidaya menggunakan air bersih pada pagi dan sore hari. Sementara itu asupan oksigen selama pertumbuhan jamur harus selalu terpenuhi karena jamur merupakan tanaman saprofit semiaerob. Bila oksigen tersedia jumlahnya terbatas bisa menyebabkan jamur layu dan mati.

Sarana Pendukung Budidaya Jamur Tiram

Sarana pendukung dalam melakukan usaha budidaya jamur tiram berupa peralatan dan bahan yang digunakan untuk membantu selama proses produksi jamur tiram mulai dari penanaman hingga pasca panen. Peralatan atau bahan pendukung tersebut antara lain plastik (PE 0,002) berukuran 20 cm x 30 cm, cincin paralon, alkohol, pembakar bunsen, alat sterilisasi baglog berupa drum/oven/autoclave, termometer, barometer, sprinkle dengan nozle halus, fungisida (bila menggunakan plastik pengemas), dan vacuum sealer.

0 komentar:

Post a Comment