Monday, March 28, 2016

Bahaya Kumbang Kedelai

Di Indonesia, hama kumbang kedelai Phaedonia inclusa Stall Coleoptera: Crysomelidae merupakan salah satu hama daun dan polong muda pada tanaman kedelai yang patut diperhitungkan karena kerugian yang ditimbulkan cukup besar.
Kehilangan hasil akibat serangan hama ini dapat mencapai 80%, bahkan dapat terjadi puso apabila tidak ada tindakan pengendalian. Hama menyerang pada kondisi lingkungan cuaca yang relatif panas, dan biasanya sumber investasi berasal dari tanaman sekitar maupun tanaman sebelumnya.
Hama ini telah menyebar hampir di seluruh provinsi dan bahkan menjadi salah satu hama utama di daerah sentra produksi kedelai.
Kumbang kedelai dewasa berbentuk kubah. Kumbang jantan panjangnya 4-5 mm, sedang yang betina 5-6 mm. Tubuh kumbang berwarna hitam mengkilap dengan bagian kepala dan tepi sayap depan berwarna kecoklatan.
Larva dan kumbang dewasa dapat merusak tanaman kedelai sejak tanaman muncul di permukaan tanah sampai panen. Bagian yang dirusak yaitu daun pucuk, bunga, dan polong. Serangan pada daun tampak berlubang-lubang, polong muda luka-luka, sedangkan pada polong tua bagian kulitnya yang dimakan.
Selain menyerang kedelai, Phaedonia inclusa juga menyerang Desmodium ovalivolium, D. trifolium, D. gyroides,dan Pueraria phaseoloides.
Upaya pengendalian hama kumbang kedelai dapat dilakukan antara lain dengan tanam serempak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari, pemantauan secara rutin dan pungut apabila menemukan hama, dan penyemprotan dengan insektisida apabila telah mencapai ambang kendali dengan Intensitas kerusakan daun mencapai lebih dari 12,5 % atau dua ekor ulat per rumpun pada umur lebih dari 45 HST dengan insektisida.
Penyemprotan dengan insektisida yang dapat menggunakan Alfa sipermetrin, Beta siflutrin, BPMC, Deltametrin, Fenitrotion, Fentoat 650, Imidakloprid, Karbaril, Klorpirifos, dan Alfasipermetrin.
Sumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan

0 komentar:

Post a Comment